Senin, 03 Juli 2017

Perkembangan Sikap Keagamaan pada Diri Seseorang



Assalamualaikum.. sobat di sini saya akan bertanya kepada sobat semua bagaimana sih pembentukan sikap keagamaan seseorang ?? bagaimana perkembangan sikap keagamaan seseorang ?apa saja sih  faktor yang mempegaruhinya ?? dan bagai mana perilaku keagamaannya ??? pasti sebagian sobat sudah tau jawabannya dan ada yang belum tau !!
Bagi sobat yang sudah tau mari kita bahas kembali dan yang belum tau mari kita pelajari..

PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Agama sebagai kebutuhan manusia. Quraish Shihab mendefinisikan bahwa agama adalah hubungan yang dirasakan antara jiwa  manusia dan satu kekuatan yang Maha Dahsyat, dengan sifat-sifat-Nya yang amat indah dan sempurna, dan mendorong jiwa itu untuk mengabdi dan mendekatkan diri kepada-Nya. Pengabdian itu dilakukan baik karena takut maupun karena berharap memperoleh kasih-Nya yang khusus, atau bisa juga karena dorongan kagum dan cinta.
Dalam  pandangan  Islam,  keberagamaan adalah fithrah (sesuatu yang   melekat   pada   diri   manusia   dan   terbawa   sejak kelahirannya. Demikian dipahami dari firman Allah SWT dalam surat Al-Rum (30): 30.
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah  atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah  itu.  Tiada  perubahan  pada  fitrah  Allah. (Itulah)  agama  yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Perbedaan usia manusia akan mempengaruhi bagaimana sikap keagamaan seseorang. Dari usia yang dini manusia belum mengenal agama, masa remaja yang memiliki keraguaan, masa dewasa manusia telah menemukan kebenaran sebuah agama, dan pada usia lanjut usia manusia juga akan mengalami perubahan dalam meyakini agama. Pengetahuan tentang agama mempengaruhi sikap keagamaannya.  Disini saya akan membahas tentang perkembangan sikap keagaman pada seseorang mulai pada usia anak-anak, remaja, dewasa dan lanjut usia, faktor yang mempengaruhi sikap keagamaannya dan perilaku keagamaannya.

B.     Rumusan masalah
1.      Bagaimana Pembentukan sikap keagamaan pada seseorang ?
2.      Bagaimana perkembangan keagamaan Pada seseorang ?
3.      Apa saja faktot yang mempengarui sikap keagamaan seseorang ?
4.      Bagaimana perilaku keagamaan seseorang ?
C.     Tujuan       
1.      Mengetahui bagaimana Pembentukan sikap keagamaan
2.      Mengetahui bagaimana perkembangan keagamaan Pada seseorang
3.      Mengetahui apa saja faktor-faktot yang mempengarui sikap keagamaan seseorang.
4.      Mengetahui bagaimana perilaku  keagamaan seseorang.


















PEMBAHASAN
A.    Pembentukan sikap keagamaan
sikap keagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorong diri orang untuk bertingkah laku yang berkaitan dengan agama. Sikap keagamaan terbentuk karena adanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai komponen kognitif, menurut Zakia daradjat sikap keagamaan meruakan perolehan bukan bawaan. Sikap keagamaan terbentuk melalui pengalaman langsung yang terjadi dalam hubungannya dengan unsur-unsur lingkungan materi dan social. Menurut siti partani pembentukan sikap keagamaan di pengaruhi oleh dua faktor yaitu:
1.      Faktor internal, berupa kemampuan menyeleksi dan mengelola atau menganalisis pengaruh yang datang dari luar, termasuk minat dan perhatian.
2.      Faktor eksternal, berupa pengaruh lingkungan yang diterimanya.

Dari pendapat di atas dapat kita simpulkan bahwa sikap keagamaan bukan berasal dari bawaan. Sikap keagamaan seseorang berkaitan erat dengan perkembangan keagamaannya.
     
B.    Perkembangan  sikap keagamaan seseorang
Perkembangan sikap keagamaan  seseorang sejalan dengan tahap perkembangan usianya. tahap perkembanganya ada pada masa anak-anak, remaja, dewasa dan lansia.
1.      Sifat Keagamaan pada Anak
Ide keagamaan pada anak sepenuhnya autoritaruis, maksudnya konsep keagamaan pada diri  mereka dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka. Mereka telah  melihat dan mengikuti apa-apa yang dikerjakan dan diajarkan orang dewasa dan orang tua mereka tentang sesuatu yang berhubungan dengan kemashlahatan agama. Dengan demikian sudah seharusnya orang tua memberikan contoh yang baik kepada anaknya dan mendidik anaknya dengan sebaik-baiknya. Berdasarkan hal itu, maka bentuk dan sifat agama pada diri anak dapat dibagi atas:
a.       Unreflective (tidak mendalam): anggapan mereka terhadap ajaran agama dapat saja mereka terima dengan tanpa kritik. Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam sehingga cukup sekedarnya saja dan mereka sudah merasa puas dengan keterangan yang kadang-kadang kurang masuk akal. Meskipun demikian pada beberapa orang anak terdapat mereka yang memiliki ketajaman pikiran untuk menimbang pendapat yang mereka terima dari orang lain.
b.       Egosentris yaitu menjadikan diri sendiri sebagai pusat pemikiran. Dalam masalah keagamaan anak menonjolkan kepentingan dirinya dan telah menuntut konsep keagamaan yang mereka pandang dari kesenangan pribadinya.
c.       Anthromorphis, konsep mengenai ketuhanan pada anak berasal dari hasil pengalamannya dikala ia berhubungan dengan orang lain
d.      Verbalis dan ritualis, kehidupan agama pada anak-anak tumbuh mula-mula secara verbal (ucapan).
e.       Imitatif, tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak-anak diperoleh dari meniru.
f.       Rasa heran, rasa kagum pada anak ini belum bersifat kritis dan kreatif. Mereka hanya kagum terhadap keindahan lahiriyah saja. ). Rasa kagum mereka dapat disalurkan melalui cerita-cerita yang menimbulkan rasa takjub.
2.      Sifat keagamaan pada Remaja
Masa remaja adalah masa yang penuh dengan kegoncangan jiwa, masa berada dalam peralihan yang menghubungkan masa kanak-kanak yang penuh kebergantungan, dengan masa dewasa yang matang dan berdiri sendiri. Dalam kondisi jiwa yang demikian, agama mempunyai peranan penting dalam kehidupan remaja. Sikap remaja terhadap agama, sangat ditentukan oleh pengalaman keagamaan yang dilaluinya sejak kecil.
Prof. Dr. Zakiyah Daradjat dalam bukunya Ilmu Jiwa Agama menjelaskan bahwa sikap remaja terhadap agama adalah sebagai berikut :
a.       Percaya turut-turutan Kebanyakan sikap remaja terhadap Tuhan dan agama, hanya mengikuti apa yang dialaminya dalam keluarga dan lingkungannya (umur 13-16 tahun). Sesudah itu biasanya berkembang kepada cara yang lebih kritis dan lebih sadar.
b.      Percaya dengan Kesadaran agama atau semangat agama pada remaja itu mulai dengan cenderungnya remaja kepada meninjau dan meneliti kembali caranya beragama di masa kecil dimulai dari umur 17 atau 18 tahun.
c.       Sikap Ambevalensi terhadap agama Ambivalence (bimbang) yang dimaksud adalah bahwa remaja di satu sisi ingin tetap dalam kepercayaannya, akan tetapi di lain pihak timbul pertanyaan-pertanyaan di sekitar agama yang tidak terjawab olehnya. Kebimbangan beragama biasanya terjadi antara umur 17-20 tahun.
d.      Tidak percaya kepada Tuhan Salah satu perkembangan yang mungkin terjadi pada akhir masa remaja adalah mengingkari wujud Tuhan dan menggantinya dengan keyakinan lain. Ketidakpercayaan yang sungguh-sungguh itu tidak terjadi sebelum umur 20 tahun.
e.       Dalam pembagian tahap perkembangan manusia, remaja menduduki tahap progresif. Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama pada remaja turut dipengaruhi oleh perkembangan itu.
3.      Sifat keagamaan pada dewasa
Masa dewasa menurut konsep Islam adalah fase dimana seseorang telah memiliki tingkat kesadaran dan kecerdasan emosional,moral,spiritual dan agama secara mendalam. Saat telah menginjak usia dewasa terlihat adanya kematangan jiwa mereka. Pada usia dewasa orang sudah memiliki tanggung jawab serta sudah menyadari makna hidup. Dengan kata lain, orang dewasa sudah memahami nilai-nilai yang dipilihnya dan berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai yang dipilihnya. Pemilihan nilai-nilai tersebut telah didasarkan atas pertimbangan pemikiran yang matang.
sikap keberagamaan pada orang dewasa antara lain memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan      sekadar ikut-ikutan.
b.      Cenderung bersifat realis, sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.
c.       Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan.
d.      Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.
e.       Bersikap lebih terbuka dan wawasan lebih luas.
f.       Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran, juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani.
g.      Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami serta melaksanakn ajaran agama yang diyakininya.
h.      Terlihat adanya hubungan antara sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial, sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan sudah berkembang.
4.      Sifat keagamaan pada lanjut usai
Kehidupan keagamaan pada usia lanjut menurut hasil penelitian psikologi agama ternyata meningkat. Dari sebuah penelitian dengan sample 1.200 orang berusia antara 60-100 tahun. Temuan menunjukkan secara jelas bahwa ada kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan yang semakin meningkat pada umur-umur ini.  Sementara pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat baru muncul sampai 100% setelah usia 90 tahun.
Secara garis besarnya ciri-ciri keberagaman di usia lanjut adalah:
a.       Kehidupan keagamaaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan.
b.      Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan.
c.       Mulai muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara lebih sungguh-sungguh.
d.      Sikap keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antar sesama manusia, serta sifat-sifat luhur.
e.       Timbul rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia lanjutnya.
f.       Perasaan takut kepada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi (akhirat).
C.     Faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan seseorang
            Dalam rangka menuju kematangan beragama terdapat beberapa hambatan. Karena tingkat kematangan beragama juga merupakan suatu perkembangan individu, hal itu memerlukan waktu, sebab perkembangan kepada kematangan beragama tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada dua factor yang menyebabkan adanya hambatan, yaitu:

1.      Faktor diri sendiri
     Faktor dari dalam diri sendiri terbagi menjadi dua, yaitu:

a.       kapasitas diri, Kapasitas diri ini berupa kemampuan ilmiah (rasio) dalam menerima ajaran-ajaran itu terlihat perbedaannya antara seseorang yang berkemampuan dan kurang berkemampuan.
b.      Pengalaman, semakin luas pengalaman seseorang dalam bidang keagamaan, maka akan semakin mantap dan stabil dalam mengerjakan aktifitas keagamaan.               
2.      Faktor luar
a.       tradisi agama
b.      pendidikan yang diterima

D.    Tingkah laku keagamaan
tingkah laku keagamaan adalah segala  aktivitas manusia dalam kehidupan didasarkan atas nilai-nilai agama yang di yakininya. Tngkah laku keagamaan didorong oleh sikap keagamaan seseorang. Sikap keagamaan seseorang merupakan interaksi secara kompleks  antara pengetahuan agama, perasaan agama, dan tindakan keagamaan dalam diri seseorang. Perilaku  keagamaan seseorang terbagi menjadi dua yaitu:
 pertama perilaku keagamaan yang taat yaitu perilaku yang sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.  Dalam setiap keadaan baik senang maupun sedih, bahagia maupun susah, sehat maupun sakit dia tetap berpengang teguh kepada ajaran agamanya. Orang yang taat kapada agamanya adalah orang yang telah matang beragamanya dan orang yang konsisten.
Kedua perilaku keagamaan menyimpang yaitu perilaku keagamaan kebalikan dari perilaku taat. Yaitu perilaku yang yang tidak sesuai dengan ajaran agama yang di anutnya . kita selaku umat islam dalam al-qur’an banyak ayat al-quran yang berbicara tentang perilaku menyimpang.  Baik perilaku penyimpangan terhadap jiwa manusia, harta, perjudian, perjinahan dan perilaku menyimpang lainnya. Salah satu ayat al-qur’an yang berbicara tentang perilaku menyimpang tentang korupsi firman allah surah al-maidah ayat 8
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿٨﴾

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
tafsir Quraish Shihab

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian senantiasa menjalankan perintah-perintah Allah dan melaksanakan persaksian di antara manusia dengan benar. Janganlah kebencian kalian yang sangat kepada suatu kaum membawa kalian untuk bersikap tidak adil kepada mereka. Tetaplah berlaku adil, karena keadilan merupakan jalan terdekat menuju ketakwaan kepada Allah dan menjauhi kemurkaan-Nya(1). Takutlah kalian kepada Allah dalam setiap urusan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui semua yang kalian perbuat dan Dia akan memberi balasan yang setimpal. (1) Islam telah menyeru umat manusia untuk selalu konsisten dengan keadilan, baik dengan penguasa maupun dengan musuh. Maka, merupakan tindakan yang tidak benar kalau kebencian mengakibatkan perlakuan tidak adil. Hal itu diterapkan pada hubungan antar individu, dan hubungan antar institusi atau negara. Bersikap adil terhadap musuh diterangkan oleh al-Qur'ân secara sangat jelas, sebagai sikap yang mendekatkan diri kepada takwa. Seandainya prinsip keadilan itu diterapkan dalam hukum internasional, maka tidak akan ada peperangan. Dan kalau setiap agama mempunyai ciri khas tersendiri, maka ciri khas Islam adalah konsep tauhid dan keadilan.






PENUTUP
Kesimpulan
Dapat kita pahami bahwa sikap keagamaan bukan berasal dari bawaan. Sikap keagamaan seseorang berkaitan erat dengan perkembangan keagamaannya. Perkembangan sikap keagamaan  seseorang sejalan dengan tahap perkembangan usianya. tahap perkembanganya ada pada masa anak-anak, remaja, dewasa dan lansia. Dimana Sifat keberagaman pada anak-anak diantaranya unreflective (tidak mendalam), egosentris, anthromorphis, verbalis dan ritualis, imitative dan rasa heran. Sedangkan pada masa remaja keberagamaannya lebih meningkat, dimana sifat keberagamaan pada masa remaja yaitu pada remaja awal  hanya mengikuti apa yang dialaminya dalam keluarga dan lingkungannya setelah itu dia mulai berpikir kritis tentang agama dan mulai meneliti dan mempelajarinya.. Pada masa remaja sering merasa bimbang karena timbul pertanyaan-pertanyaan di sekitar agama yang tidak terjawab olehnya. Selanjutnya pada masa dewasa, pada masa ini adalah masa Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan      sekadar ikut-ikutan, Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran, juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani. Selanjutnya pada usia lanjut Kehidupan keagamaaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan. Mulai muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara lebih sungguh-sungguh, Timbul rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia lanjutnya.Perasaan takut kepada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi (akhirat).
            Dalam sikap keagaman terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya yaitu faktor internal dan eksternal. Perilaku keagamaan dibedakan menjadi dua yaitu perilaku taat dan menyimpang. Dimana perilaku taaat itu adalah perilaku yang sesuai dengan ajaran agama sedangkan perilaku menyimpang kebalikannya yaitu tidak sesuai dengan agama yang dianutnya.








DAFTAR PUSTAKA
Baharuddin &Mulyono.2008. Psikologi Agama dalam Perspektid Islam.Malang: Press Malang.
Daradjat, Zakiah. 1996.  Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT Bulan Bintang
Jalaluddin. 2011. Psikologo Agama. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada
Nasution, Harun. 1985. Islam Ditinjau dari berbagai aspeknya. Jakarta: Universitas Indonesia
Syamsul, Yusuf.  2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya


 Oke sobat semua !!!!!
Ini ada tips dari saya kepada sobat-sobat semua tentang  dalam upaya mencengah perilaku keagamaan menyimpang, Kita selaku umat islam rasulullah merupakan contoh teladan bagi kita. Sebagai Muslim adalah kewajiban kita untuk mengikuti petunjuk Nabi di setiap segi kehidupan kita. Terlebih tentang tata cara mendidik anak. pasti sobat-sobat semua  mempunyai adik-adik dirumah bukan !!! bahkan kelak sebat semua menjadi orangtua bagi anak sobat semua. Ini tips dari saya tentang tata cara mendidik anak dengan mengikuti pesan-pesan rasulullah.
1.      Mengenalkan dan mendidik anak tentang Tauhid
Rasullullah SAW bersabda: "Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat "Lailaha-illaallah". Dan saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah, "Lailaha-illallah". Sesungguhnya barangsiapa awal dan akhir pembicaraannya "Lailah-illallah", kemudian ia hidup selama seribu tahun, maka dosa apa pun, tidak akan ditanyakan kepadanya." Imam Al Baqir dan Imam ash Shadiq raadiyallahu 'anhuma berkata, tahapan untuk mengenalkan Allah kepada anak adalah:
a.       Pada usia 3 tahun, ajarkan kepadanya kalimah Tauhid, "Laila ha illallah" sebanyak tujuh kali.
b.      Pada usia 3 tahun 7 bulan, ajarkan kepadanya kalimat "Muhammad Rasullullah."

2.      Mendidik anak tentang Salat

a.       usia 5 tahun dan telah memahami arah, maka coba tanyakan mana bagian kanan dan kirinya. Lalu ajarkan padanya arah kiblat dan mulailah mengajaknya salat.
b.      Pada usia tujuh tahun ajaklah ia untuk membasuh muka dan kedua telapak tangannya dan minta padanya untuk melakukan salat.
c.       Tata cara berwudhu secara penuh boleh diajarkan pada usia 9 tahun. Kewajiban untuk melakukan salat serta pemberian hukuman bila meninggalkannya sudah dapat di terapkan pada usia ini. Karena pada usia ini anak biasanya sudah pandai memahami akan urutan, aturan dan tata tertib.

3.      Hak anak dalam pendidikan

1.      Berkaitan dengan pendidikan agama, ada beberapa hal yang harus orang tua lakukan antara lainMemberikan nama yang baik.
2.      Diakikahkan dan dipotong rambutnya (akan lebih baik dilakukan pada hari ketujuh).
3.      Ada hak anak yang terdampat pada ayahnya yaitu mendapat pengajaran budi pekerti yang luhur, menulis, dan latihan fisik yang menyehatkan badannya serta diwarisi harta yang halal.

4.      Tentang ibadah-ibadah dan amalan lainnya

Saat anak mendekati usia baligh, maka wajib bagi orang tua untuk mengenalkannya dengan puasa serta mewajibkan salat. Selain itu juga memerintahkan padanya untuk mencari ilmu, menghafal Al-Qur'an, dan jika tidak mampu maka perintahkan padanya untuk mencatat.Imam AliZainal Abidin radiyallahu'anhu dalam kitab Risatul Huquq.

"Adapun hak anakmu adalah, ketahuilah bahwa ia berasal darimu. Dan segala kebaikan dan keburukannya di dunia, dinisbatkan kepadamu. Engkau bertanggung jawab untuk mendidiknya, membimbingnya menuju Allah dan membantunya untuk menaati perintah-Nya.
Maka, perlakukanlah anakmu sebagaimana perlakuan seseorang yang mengetahui bahwa andaikan ia berbuat baik pada anaknya, niscaya ia akan mendapatkan pahala dan andaikan ia berbuat buruk niscaya ia akan memperoleh hukuan."

..
Disini saya ingin sobat semua memberi kritikan atau saran  atau apa pun itu yang bersipat membagun tentang blog saya ..
Terimakasih sobat semua telah membaca blog saya…Semoga blog ini bisa bermanfaat bagi sobat semua


Perkembangan Sikap Keagamaan pada Diri Seseorang

Assalamualaikum.. sobat di sini saya akan bertanya kepada sobat semua bagaimana sih pembentukan sikap keagamaan seseorang ?? bagaima...