Psikologi agama merupakan salah satu cabang dari psikologi. Dalam
proses layanan bimbingan dan konseling, konselor perlu mempelajari psikologi karena landasan psikologi merupakan landasan yang dapat
memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi
sasaran (klien). Dan agama merupakan
landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi
keagamaan sebagai faktor yang mempengaruhi perilaku individu. Dalam proses
pelayanan yang diberikan konselor kepada klien harus memperhatikan dimensi
keagamaannya sehingga pemberian solusi akan sesuai dengan apa yang mereka
yakini, tidak bertentangan dengan prinsip agama yang mereka anut. Seorang
konselor sangat penting untuk memahami landasan agama secara baik karena
konselor tidak hannya sekedar menuangkan pengetahuan ke otak saja atau
pengarahan kecakapannya saja tetapi agama penting untuk menumbuhkan moral,
tingkah laku, serta sikap seseorang yang sesuai dengan ajaran agamanya.
Secara pasti belum ada keterangan kapan dimulainya kajian psikologi
agama secara ilmiah. Namun para ilmuan sepakat bahwa kajian hubungan agama
dengan kejiwaan telah terdapat pembahasan dalam berbagai kitab suci
agama-agama. Untuk menetapkan secara pasti kapan psikologi agama itu mulai
dipelajari memang agak sulit. Didalam kitab suci dan dalam sejarah agama-agama
tidak dijumpai penjelasan mengenai hal itu. Tetapi hubungan antara kejiwaan
dengan agama banyak diungkapkan oleh berbagai kitab suci.
Dalam literature barat diungkapkan bahwa penelitian secara ilmiah
tentang agama dimulai kajian para anthropolog. Hasil penelitian Frazervdan
Taylor mengenai agama-agama primitive dicatat sebagai gerakan awal dari kajian
tersebut. selanjutnya sejumlah penelitian dilakukan oleh para sosiolog dan
psikolog yang dipandang sebagai peletak dasar bagi penelitian modern di
lapangan psikologi agama. Bukunya yang membahas mengenai pertumbuhan perasaan
agama merupakan buku pertama mengenai psikologi agama di kalangan ahli
psikologi barat. Sebenarnya sejumlah buku yang hampir senada dalam khazanah islam juga telah dihasilkan oleh
penulisan timur (islam) dalam kurun waktu yang lebih awal. Diperkirakan ada sejumlah buku mengenai
psikologi agama yang telah dihasilkan oleh ilmuan muslim. Sejak psikologi
menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri, perkembangannya sangat pesat.
Ditandai dengan berbagai karya tulis, baik berupa buku, artikel, dan jurnal yang memuat kajian tentang
bagaimana agama dan kehidupan manusia. Dengan demikian, psikologi agama kini
telah memasuki berbagai bidang kehidupan manusia mulai dari rumah tangga,
sekolah, rumah sakit dan lain sebagainya.
Menurut penelitian Ernest Harms perkembangan agama pada anak-anak
itu melalui beberapa fase (tingkatan).
Dalam bukunya thedevelopment of religious on children, ia
mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak itu melalui tiga tingkatan.
Pertama the fairy
tale stage (tingkat dongeng). Tingkatan ini dimulai pada anak yang berusia
3-6 tahun. Pada tingkat ini konsep mengenai ketuhanan lebih banyak dipengaruhi
oleh fantasi dan emosi. Pada tingkat perkembangan ini anak menghayati konsep
ketuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya. Kehidupan masa ini
masih banyak dipengaruhi kehidupan fantasi, hingga dalam menanggapi agama pun
anak masih menggunakan konsep fantasi yang meliputi oleh dongeng-dongeng yang
kurang masuk akal.
Kedua the
realistic stage (tingkat kenyataan). Tingkat ini dimulai sejak anak masuk
sekolah dasar hingga ke usia adolesense. Pada masa ini ide-ide ketuhanan
udah mencerminkan konsep-konsep yang
berdasarkan kepada kenyataan (realita). Pada masa ini ide keagamaan anak
didasarkan atas dorongan emosional, hingga dapat melahirkan konsep ketuhanan
yang formalis.
Ketiga the individual
stange (tingkat individu). Pada tahap ini
anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan
perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang individualistis ini terbagi
menjadi tiga golongan yaitu konsep ketuhanan yang konvensional dan komperatif
dengan sebagian kecil di pengaruhi oleh fantasi, konsep ketuhanan yang lebih
murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal (perorangan) dan
konsep ketuhanan yang bersifat humanistik.
Salah satu Sifat keagamaan pada anak-anak adalah unreflective
(tidak mendalam). Contoh seorang anak diketahui pernah mendengar doa yang dapat
menggerakkan sebuah gunung. Maka dari itu, ia pun berdoa agar gunung yang ada
di daerahnya juga bergerak dan berpindah ke belahan bumi lain. Namun sayang,
kuasa Allah swt belum mengabulkan keinginannya. Karena keinginannya tidak
terwujud, maka semenjak itu ia enggan untuk berdoa lagi. Dari contoh di atas,
hal-hal tersebut dapat ditemui ketika anak masuk pada usia 12 tahun. Pada masa
itu anak-anak sudah mulai menunjukka kekritisan berpikir dan membutuhkan
jawaban dan argument yang tepat atas rasa penasaran yang ada di dalam benaknya.
Hal tersebut juga menunjukkan bahwa anak membutuhkan bimbingan efektif untuk
mengakhiri keraguan terhadap kebenaran ajaran agama pada aspek-aspek yang
bersifat konkret.
Hakikat manusia menurut konsep Al-Qur’an terdiri atas tiga katagori
yaitu al-insan, al-basyar dan bani adam. Salah satu ayat yang menjelaskan
tentang hakikat manusia dalam katagori basyar yaitu qs ar-rum ayat 20. Ayat ini merupakan salah satu ayat mengisyaratkan
bahwa proses kejadian manusia sebagai basyar (manusia) melalui tahapan-tahapan
sehingga mencapai tahapan kedewasaan, dimana tahapan kedewasaan ini
menjadikannya mampu memikul tanggung jawabnya sebagai khalifah di bumi. Firman
Allah QS Ar-Rum: 20
وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ
خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ
Dan di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu
(menjadi) manusia yang berkembang biak. (Q.S. ar-Rum [30]: 20)
Tafsir Quraish Shihab
Dan di antara
tanda-tanda-Nya yang menunjukkan akan kekuasaan-Nya (ialah Dia menciptakan
kalian dari tanah) asal kalian yaitu Nabi Adam (kemudian tiba-tiba kalian
menjadi manusia) yang terdiri dari darah dan daging (yang berkembang biak) di
muka bumi.
.
DAFTAR PUSTAKA
Amti,
herman dan Prayitno. 2004. Dasar- dasar bimbingan dan konseling.
Jakarta: PT Raneka Cipta.
Jalaluddin.
2005. Psikologi agama. Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada.
Raharjo,
dawan. 1999. Pandangan Al-Qu’ran tentang
Manusia dalam Pendidikan dan Perspektif Al-Qur’an. Yogyakarta: LPPI.
M., Wawasan Al-Qur’an, hlm. 36
Walidin, warul. 2004. Psikologi Agama. Banda Aceh: Ar-Raniry
Press.
https://restiarman.wordpress.com/2015/06/04/perkembangan-jiwa-agama-pada-anak-anak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar